Judul
buku : Refrain
Nama
pengarang : Winna Efendi
Penerbit
: Gagas Media
Tahun
terbit : 2009
Kota
terbit : Ciganjur – Jagakarsa, Jakarta Selatan
Tebal
buku : 318 halaman
Ukuran buku : → panjang 13cm
→
lebar 19cm
→
tebal 2cm
Harga
buku : Rp 46.000
Refrain bercerita tentang perjalanan Niki (Maudy Ayunda) dan Nata (Afgansyah Reza) dalam menemukan cinta mereka.
Cerita dimulai dengan kedatangan Niki ke Austria yang bermaksud untuk menemui Nata yang telah lama kuliah musik di negara tersebut. Sebelum berjalan lebih jauh Niki menceritakan kembali kisahnya bersama Nata 5 tahun sebelumnya.
Setelah bertahun-tahun bersahabat, ada warna yang berbeda saat Niki dan Nata menginjak bangku SMA. Ada sosok Annalise (Chelsea Elizabeth Islan), siswi baru yang ternyata Ibunya seorang model terkenal. Ada Oliver (Maxime Bouttier), kapten basket tampan yang memikat Niki. Dan, ada Helena (Stevani Nepa), kapten cheerleaders yang tidak pernah mau kalah.
Nata ternyata menyayangi Niki lebih dari sahabat. Sayangnya, Nata tidak berani mengungkapkan perasaannya dan juga karena Niki kini telah berpacaran dengan Oliver, sang kapten basket. Ternyata diam-diam Annalise pun menyimpan perasaan terhadap Nata hingga akhirnya ia mengetahui bahwa Nata memberikan perasaannya hanya kepada Niki ketika ia mendengar Nata berkata menyayangi Niki disaat sedang berada di rumah sakit.
Keesokan harinya Annalise memilih untuk tidak masuk sekolah. Karena khawatir, Niki dan Nata segera berkunjung ke rumahnya seusai pelajaran berakhir. Annalise, yang sedang menangis seraya menatapi foto-foto Nata terkejut ketika menyadari kedatangan kedua temannya itu hingga akhirnya secara tidak sengaja menjatuhkan foto-foto itu ke kolam. Langsung saja Nata dan Niki melihat itu semua sementara Annalise sudah melarikan diri ke dalam rumah. Tak lama kemudian Nata mengejarnya disusul dengan Niki. Ketika sampai di dalam rumah Nata menemukan Annalise dengan keadaan yang semakin sedih. Nata kemudian bertanya apa maksud semua foto itu. Annalise, dengan air mata yang masih keluar berkata dengan jujur bahwa ia menyayangi Nata. Nata yang mendengarnya pun sontak terkejut dan akhirnya ia juga berkata jujur bahwa ia telah menyayangi Niki. Tepat disaat Nata berkata itu muncul Niki yang kemudian segera berlari meninggalkan kedua temannya.
Setelah itu kehidupan di sekolah menjadi suram. Niki kini memilih untuk berteman dengan rombongan Helena sementara Nata dan Annalise tetap berteman namun menjadi agak terpisah. Nata tetap mencoba berbicara kepada Niki namun sayangnya Niki telah mencoba melupakannya.
Tak lama kemudian tibalah Ujian Nasional. Ketiga sahabat yang terpecah ini lulus, namun Niki tetap mempertahankan sikapnya untuk melupakan Nata.
Tak lama setelah Ujian Nasional tersebut tibalah malam prom yang amat ditunggu-tunggu oleh Niki. Sebelumnya ia dan Oliver telah berjanji untuk pergi bersama-sama namun disaat malam tiba Oliver memberitahu Niki bahwa ia tidak dapat pergi sehingga Niki pun pergi sendiri ke acara. Semua tampak lancar hingga ketika Niki melihat Oliver pergi ke acara bersama Helena. Niki segera menghampirinya, memarahinya, dan hendak menamparnya namun berhasil ditahan oleh Helena. Nata, yang sedari tadi sudah memperhatikan kejadian itu segera melepaskan tangan Helena dan memukul Oliver, setelah itu Nata menarik tangan Niki untuk pulang.
Kini Niki menyadari bahwa Nata bersungguh-sungguh menyayanginya namun di saat itulah Nata berkata bahwa ia harus pergi ke Austria esok. Esoknya Niki yang bangun kesiangan segera menuju ke kamar Nata, namun sayangnya Nata telah pergi dan hanya meninggalkan surat di dalam sebuah amplop biru. Niki segera membacanya dan dari surat inilah ia menyadari bahwa Nata benar-benar menyayanginya dengan sungguh-sungguh.
5 tahun kemudian Niki memilih untuk menyusul Nata ke Austria. Walaupun harus kehilangan koper dan tersesat ia akhirnya menemukan Nata sedang bermain piano. Setelah itu Niki menunggu diluar hingga Nata melihatnya. Mereka kemudian jalan-jalan dengan sebuah kereta kuda, dalam perjalanan Niki memberikan surat di dalam sebuah amplop merah yang isinya adalah "It's always been you too", sebuah jawaban untuk apa yang diharapkan Nata selama ini.
- KELEMAHAN
- Para kakak kelas dengan kejamnya memaksa seluruh murid tahun pertama untuk memakai seragam smp lama mereka lengkap dengan rangkaian petai di terkalung di leher. (Hal. 25)
- Ketika dilihatnya gadis itu tertunduk di luar pagar, sendirian dengan bahu mungil yang berguncang oleh tangis, Nata merasa hatinya trenyuh. (Hal. 260)
- Dia selalu menunggu hingga anggota cheers lain sudah pulang sebelum menyelinap ke dalam ruang ganti untuk membersihkan diri, karena dia merasa tidak nyaman bertukar pakaian di di tengah orang-orang yang tidak bersahabat terhadapnya. (Hal. 278)
- KELEBIHAN
§
Gaya genre pop
remajanya jelas. Berkutat tentang persahabatan & cinta yang dimana selalu
menghadiri kisah remaja pada umunya.
Banyak
kata-kata bagus yang dapat kita ambil dari novel ini.
“Yang gue tau persahabatan
itu gak memilih. Persahabatan bukan didasari gender, usia, motif, atau apapun
itu. Persahabatan yang tulus gak harus punya alasan.”
“Penolakan berarti pengejaran yang
lebih kukuh” (Hal. 98)
“Manusia akan menua, tempat bisa
berubah, kita bisa melupakan. Karena itulah kamera digunakan, untuk merekam
hal-hal yang tidak dapat diingat manusia dengan sempurna.” (Hal. 121)
“Apa artinya sebuah mimpi? Sesuatu
yang diinginkan, sesuatu yang harus di capai, atau hanya satu fragmen harapan?
Apakah semua orang punya mimpi? Bagaimana jika tidak memilikinya? (Hal. 215)
§ Design
cover novelnya bagus. Amplop biru yang menempel di depan menambah nilai plus
novel tersebut.
- KESIMPULAN
Saat cinta
selalu pulang. Cinta selalu pulang kemana seharusnya cinta itu berada.
0 komentar:
Posting Komentar